Pages

Ads 468x60px

Labels

Kamis, 12 Januari 2012

Survei: Perempuan Ogah Pacari Pria Miskin




Cinta tidak bersyarat tidak berlaku di China. Hal itu terekam dalam survei perilaku warga China terhadap cinta dan pernikahan. Hampir 80 persen responden perempuan setuju lelaki berpenghasilan 4.000 yuan atau setara 635 dolar AS per bulan tidak seharusnya memulai hubungan dengan perempuan.

Lebih seperempat jumlah perempuan yang mengikuti survei berharap mengencani lelaki berpendapatan 10 ribu yuan per bulan atau lebih. Survei menjaring lebih 50 ribu warga di seluruh wilayah negara itu berumur 20-60 tahun. Survei dilakukan Asosiasi Pekerja Sosial China dan laman Baihe.com, situs kencan dan perjodohan besar di China.

Sejumlah responden perempuan menganggap pendapatan yang cukup, tabungan dan tempat tinggal sebagai kebutuhan ekonomi yang penting dipertimbangkan untuk menikah dengan seorang pria. Kurang dari enam persen perempuan mengatakan mereka tidak peduli tentang status keuangan calon pasangannya.

Survei membuktikan perempuan dan lelaki memiliki perbedaan alasan untuk tetap tidak menikah. Lebih dari setengah jumlah perempuan yang disurvei mengatakan, mereka tidak menikah karena takut gagal akibat rata-rata tingkat perceraian meninggi. Sekitar 42 persen perempuan tidak ingin mengambil risiko dalam pernikahan.

Sejumlah pria mengatakan, tidak memiliki rumah dan takut kehilangan kebebasan setelah menikah menjadi alasan kuat untuk tetap tidak menikah. Menurut peraturan yang berlaku Agustus lalu, harta pranikah dipandang sebagai harta milik pribadi dari pemilik yang terdaftar, bukan harta milik pasangan yang menikah.

Berdasarkan peraturan ini, sekitar 40 persen responden perempuan mengatakan mereka akan memasukkan nama mereka ke dalam sertifikat kepemilikan rumah jika rumah itu dibeli oleh pasangan pria mereka sebelum menikah. Sekitar 40 persen pria yang mengisi survei mengatakan "tidak" terhadap permintaan tersebut.

Warga China berbeda pendapat tentang cinta dan pernikahan. Lu Xiongyu, lelaki yang bekerja di perusahaan ekspor-impor di Beijing mengatakan, seorang perempuan wajar jika ingin berkencan dengan pria yang berpenghasilan 4.000 yuan atau lebih perbulan.

"Biaya hidup di perkotaan tinggi dan cinta tidak bertahan tanpa ada makanan yang cukup," kata Lu, 27 tahun. Namun, tidak semua perempuan memiliki patokan tinggi terhadap status ekonomi lelaki.

Ada juga yang mencari keromantisan. "Cinta bukan dagangan dan banyak perempuan tidak bergantung secara ekonomi kepada pria untuk kebutuhan hidup," kata Hu Heng (25), perempuan yang belum menikah di Guangzhou, Provinsi Guangdong.

Lu tidak setuju membagi kepemilikan harta dengan pasangannya sebelum menikah. "Bagaimana jika dia tidak ingin menikahi saya setelah saya menulis namanya pada sertifikat kepemilikan rumah?"

Baik lelaki maupun perempuan yang mengikuti survei setuju saling mencintai menjadi faktor utama dalam pernikahan. Menurut survei itu, pria lebih memilih penampilan pasangannya, sementara kaum hawa menginginkan pria yang sukses dalam pekerjaannya.

Survei tersebut menyimpulkan bahwa usia cinta pertama semakin muda bagi warga China. Sekitar sepertiga responden yang lahir setelah 1990 mengatakan mereka jatuh cinta untuk pertama kali sewaktu berada di SD atau SMP.

Profesor spesialis kewanitaan di Universitas Perempuan China, Sun Xiaomei, percaya survei tersebut hanya mencerminkan perilaku kaum muda terhadap cinta dan pernikahan. Menurut Sun, jejaring tidak populer pada warga yang berusia lebih 50 tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Sample Text

NikiComic